MENU0

Siapakah Saya di Meilleur Ami?

Dari tahun 2007, aku udah menekuni jualan baju. Punya usaha butik offline, kolaps dua kali, jualan online juga pernah dan kolaps juga, bikin brand sendiri juga pernah,hehehe.. Semua itu aku jalani masing-masing nggak lebih dari tiga tahun. Aku ingat, pernah brainstorming sama pengusaha senior jaman sebelum ada media sosial, mereka pasti bilang “Ketika usaha kamu udah sampai 3 tahun, tahun ke 4 tu seperti ngulang lagi dari awal. 3 tahun tuh fase pertahanan. Pilihannya, bertahan tapi harus dibumbui dengan bikin sesuatu yang baru supaya orang nggak bosan atau kamu hilang (nggak bisa bertahan karena dilibas yang lain)”. Dan itu benar,  saat berjaya dan nggak bisa bertahan karena terlalu nyaman ya hancur.
Tapi beda dengan Meilleur Ami, so far bisnis ini paling lama aku pegang. Dari awal emang udah jatuh cinta. Kerja bareng dengan orang-orang yang punya passion dan idealisme tinggi. Banyak tantangan karena harus mengakomodir beberapa keinginan.
Yap, di Meilleur Ami aku adalah manager yang bertugas mengurus apapun yg bikin Meilleur Ami running well sesuai rencana. Mungkin sebenernya di sini passion ku ya. Apa sih passionnya? Nyuruh orang! Hahaha…

Kalau dulu waktu punya butik/brand sendiri aku mikirin harus jual baju apa yang bagaimana sekarang udah nggak lagi. Karena ada Hamidiya dan Hana yang punya porsi di bidang produksi. Dari awal terbentuknya Meilleur Ami aku udah bilang, nggak mau ambil porsi di bagian produksi atau penyediaan produk. Aku lebih mikirin konsep branding, promotion, marketing, sekaligus talent manajer yang “menjual” kemampuan tiga sahabatku itu. Sundus yang sering aku jual dan aku sibukkan dengan pekerjaan terkait kemampuannya. Karena di Meilleur Ami, dia lah satu-satunya yang menjual jasa keterampilannya (makeup in orang). Dia kusibukkan dengan beauty class, jadi mentor private makeup class, makeup foto prewedding, meeting dengan vendor dan banyak lagi. Pernah dia sampai sakit (pingsan dan sesak nafas di ruang makeup) gara-gara aku terlalu bersemangat menerima banyak job untuknya, dan saat itu kami berdua belum punya asisten. Jadi merasa bersalah deh aku. Tapi setiap kejadian kita jadikan pelajaran. Kalau ada yang pernah bilang SDM adalah aset, itu benar. Sebagai enterpreuner kita nggak boleh egois mengerjakan semua sendiri. Kita harus berbagi, meski terkadang kami ngos-ngosan menggaji, tapi seiring bertambahnya karyawan, tawaran pekerjaan pun mengalir manis. Karyawan juga akan dengan senang hati membantu kita kok meski pekerjaan bejibun buat dia, asal kita memperhatikan kebutuhannya. Baik materi maupun hati.

So, buat yang akan atau sedang menjalankan usaha, nggak usah ragu atau pelit meng-hire orang untuk membantu. Karena dengan berbagi, mereka pun akan mendoakan yang bagus-bagus untuk kita.

 

2 Comments
18 2018
Nice share. Akhirnya berkunjung ke blog mbak Rani.
Rani Nelasari
23 2018
hai kak..terimakasih sekali sudah main main ke sini ^^
Leave a comment!
Your Name*
Your Email*
Your Website
Your Comment
Instagram
Follow me @raninelasari