MENU0

Nomaden Market : Pasar Yang Mengubah Hidupku

Kembali ke masa tahun 2010-2011 dimana pertama kalinya aku bikin bazar yang bernama Nomaden Market. Sebuah bazar yang tercetus karena rasa bosan yang seringkali muncul dalam diri ini. Tepatnya bosan karena nggak punya duit, hehe….Waktu itu aku punya  banyak barang sisa butik yang udah kolaps, dijual online tapi nggak laku-laku. Tahu sendiri kan jaman 2010-2011 orang belum familiar dengan belanja online, masih takut ditipu, masih pengen nyoba baju yang diinginkan, masih ragu untuk jalan ke ATM buat transfer dan masih belum ada m-banking yang mempermudah segalanya. Oke! Mau ikut bazar besar, biaya sewanya selangit. Sampai akhirnya pas lagi santai, muncullah lampu-lampu kecil di atas kepala untuk membuat bazar dan mengumpulkan beberapa teman untuk buka stan.

Untuk lokasi, aku mengajukan proposal ke beberapa kafe milik teman, dan saat itu deal pertama Nomaden Market diadakan di parkiran kafe Kofisyop milik salah satu teman. Di Nomaden Market pertama, selain menjual produk baru, aku dan teman-teman juga menjual barang preloved/second yang kondisinya masih bagus alias layak jual. Teman yang ikut buka stan di sini bukan sembarang teman,  mereka adalah online store yang punya misi sama denganku, dan beberapa buka stan arena untuk charity. Nggak disangka, Nomaden Market pertama langsung heboh, antusiasme nya tinggi, orang berbondong untuk datang sampai tenda nya hampir rubuh saking banyaknya orang. Padahal aku hanya menyebarkan info lewat twitter aja, dan kerjasama dengan @infotembalang saat itu. Karena bazar dari the power of kepepet ku ini berhasil, aku nggak mau diem gitu aja dong. Aku memutuskan untuk mengadakannya tiap bulan dan pindah-pindah tempat (itulah kenapa namanya Nomaden Market ya) dengan peserta yang berbeda, karena banyak banget yang email aku untuk ikut jadi peserta. Akhirnya aku mengubah konsep, yang boleh ikut adalah mereka yang punya brand dan produksi sendiri. Jadi misiku, sekalian mengangkat local brand Semarang supaya bisa muncul di permukaan, nggak cuma bersembunyi jadi online store dan tergilas dengan brand besar yang bikin bazar dengan sewa stan berharga tinggi.

Kami mengajukan proposal ke kafe sana sini untuk lokasi. Membeli tenda, dan mendirikannya setiap kali bazar diadakan. Kalau beruntung, kami bisa mendapatkan lokasi yang sudah ada kanopi, nggak perlu susah payah buat mendirikan tenda. Dulu, Nomaden Market nggak meminta biaya sewa stan, karena niatnya kan membantu local brand, dan aku sendiri jualan produkku. Setiap stan hanya dikenakan share profit 10% dari hasil penjualan. Baik banget, kan!

Pada pelaksanaannya, Nomaden Market nggak selalu mulus. Pernah kami diusir dari suatu kafe karena ternyata manajernya yang udah deal sama aku, tapi belum diskusi dengan pemiliknya dan sang pemilik merasa terganggu karena ada bazar kita di terasnya. Tapi justru kejadian ini bikin semua peserta semakin erat ikatannya satu sama lain, alias kompak. Pernah juga, tendanya ambruk karena hujan dan kami basah kuyup lalu besoknya badan gatal-gatal, hahaha…..Meski banyak tantangannya tapi kami tetep melaju tanpa henti dan semakin menjadi-jadi dengan mempromosikannya ke radio, dan media lainnya. Senangnya, para peserta juga ikut aktif membantu mempromosikan acara ini. Jadilah acara ini menjadi bazar dari kita untuk kita.

Dari Nomaden Market lah aku memiliki banyak relasi baru. Seperti mbak Desy dari Yogyakarta yang suka banget sama konsep Nomaden Market dan akhirnya dia bikin acara ini di Yogyakarta. Liputannya bisa diklik disini. Dari Nomaden Market, aku pernah masuk sebagai salah satu tech preuner berusia dibawah 30 versi Ziliun x The Marketeers di tahun 2014.

Dan yang paling mengharukan, aku bertemu dengan sahabat-sahabatku yang kini berada dalam satu atap Meilleur Ami di Nomaden Market. Ciss Handmade dan Hana’s Beau adalah tenant tetap yang selalu orang cari di Nomaden Market. Dua orang sahabatku lainnya yaitu Nessa (Naiza) dan Ani (Tepeeace) juga akrab karena Nomaden Market. Nessa pernah punya kafe yang dijadikan tempat untuk Nomaden Market. Mereka lah yang menjadi saksi aku merintis event ini sampai aku pernah diprofilkan sebagai Ratu Pasar di salah satu media cetak besar di Semarang.

Waktu berlalu, dari mendirikan tenda, menyewa tenda sampai akhirnya tahun 2016 Nomaden Market aku adakan di sebuah hotel/food mall. Nomaden Market direkonsep lagi dengan membidik pasar cowok, membuka spot untuk  yang punya clothing line khusus cowok. Meski rekonsep dan pindah ke lokasi yang lebih baik, Nomaden Market tetap menjadi bazar intimate yang hanya diikuti maksimal 10 tenant. Kenapa? Karena buat aku Nomaden Market bukan proyek ambisius untuk mendapatkan keuntungan semata, namun lebih ke personal merasakan cari rejeki bersama teman-teman yang punya visi misi sama. Dan tahun 2016 itu menjadi Nomaden Market terakhir yang aku adakan. Aku mengambil keputusan berat untuk vakum dulu mengadakan Nomaden Market, karena sedang mengembangkan usaha yang lain. Namun, tidak menutup kemungkinan kalau kangen, akan bikin lagi acara seru-seruan seperti ini. Ditunggu ya!

1 Comment
anin
09 2018
Mau dong mbak Rani ngelanjutin, tapi ajarin dulu hehehe....
Leave a comment!
Your Name*
Your Email*
Your Website
Your Comment
Instagram
Follow me @raninelasari
This error message is only visible to WordPress admins

Error: API requests are being delayed for this account. New posts will not be retrieved.

There may be an issue with the Instagram Access Token that you are using. Your server might also be unable to connect to Instagram at this time.

Error: No posts found.

Make sure this account has posts available on instagram.com.

Error: admin-ajax.php test was not successful. Some features may not be available.

Please visit this page to troubleshoot.