MENU0

Dilema Penata Gaya Pengantin

Menjadi fashion stylist atau penata gaya udah jadi hobiku sejak dulu. Karena aku suka dadanin orang dan ada kepuasan tersendiri kalau orang-orang mengikuti apa yang sudah aku konsepkan. Sekedar informasi, fashion stylist adalah orang yang bertugas untuk menentukan konsep gaya / dandanan dan melayani seseorang tersebut untuk  bisa menentukan penampilan secara keseluruhan.

Bersama partnerku Dya (desainer) dan Sundus (Makeup artist), dua tahun belakangan ini profesiku sebagai bridal fashion stylist atau penata gaya pengantin di Meilleur Ami Muslimah Bride semakin banyak tantangan. Tantangannya adalah, pengantin muslimah masa kini semakin jauh dari kata pakem, sehingga setiap pengantin harus dikonsep secara personal agar jadi sekeren mungkin dan tampil berbeda dengan gaun koleksi kami (yang mana sudah pernah dipakai pengantin lain).  Selain biar bagus untuk portfolio kami, juga untuk menghargai klien yang sudah meng-hire kami untuk hari istimewa seumur hidup sekali.

Penata gaya pengantin dituntut sempurna untuk membahagiakan klien, karena kejadian ini hanya seumur hidup sekali. Selain itu, penata gaya harus tetap berada pada garis Meilleur Ami. Aku harus selalu ingat ciri khas Meilleur Ami  supaya orang-orang nggak “pangling” dengan karya Meilleur Ami ketika melihatnya dipakai oleh klien. Goal ku minimal ketika seseorang melihat pengantinnya, mereka akan bilang : “Oh..ini pasti Meilleur Ami nih”. Oleh sebab itu, aku harus bener-bener bisa mempelajari klien ku dengan baik. Nggak jarang aku bisa terlibat secara emosional kepada mereka dan berakhir menjadi hubungan pertemanan setelahnya. Dengan kedekatan ini, aku jadi bisa memberi gambaran Dya dan Sundus baiknya pengantin ini total look nya seperti apa. Pengantin biasanya banyak banget yang harus dipikirkan, nggak cuma memutuskan memilih gaun yang bagus untuknya, penata gaya berfungsi untuk membantu pengantin menentukan gaya yang cocok untuk pengantin. Nggak cuma pengantin perempuan, tapi laki-lakinya juga bahkan sampai ke orang tua.

Selama ini masih banyak yang menggampangkan profesi penata gaya pengantin. Mungkin bridal fashion stylist nggak sepopuler desainer atau makeup artist, namun profesi ini menjadi kunci tampilan keseluruhan seorang pengantin. Bagaimana menggabungkan makeup yang bagus dan pakaian yang sesuai karakter pengantin. Karena dianggap remeh, banyak yang dengan mudahnya mencontek hasil karya seorang penata gaya. Memang benar apa yang dipakai pengantin mungkin bahan-bahannya mudah ditemukan di pasaran. Siapapun bisa membuatnya. Tapi ide untuk mix and match itu juga berproses, butuh mempelajari pengantin secara personal dan waktu untuk memunculkan ide tersebut. Tapi, pada akhirnya kami berkompromi dengan diri. Sekeren apapun hasil karya kami, ketika udah masuk sosial media, kami pun harus rela disukai, dicela, sampai dicontek. Itulah salah satu tantangan dari profesi ini.

 

Nggak sampai disitu aja, tantangan akhir-akhir ini adalah konsep pastel untuk pakaian dan makeup anti pangling yang kami kampanyekan, sekaligus sedang digemari pengantin wanita masa kini. Konsep ini seringkali mengalami bentrokan dengan keinginan pihak-pihak selain pengantin. Karena  belasan tahun lalu, orang menikah identik dengan makeup tebal bikin pangling dan pastinya lipstik cerah merekah. Tentu saja dengan konsep pastel dan makeup nude ala Meilleur Ami menjadi celah untuk dicela oleh siapapun yang nggak sejalan dengan konsep kami. Paling sedih kalau yang nggak suka adalah ibu pengantin. Seolah kami menjadi tersangka utama yang bikin anaknya nggak manglingi alias dianggap nggak ada beda dengan keseharian. Padahal kebanyakan, pengantin menyukainya bahkan mereka yang menginginkan konsep tersebut. Faktanya, aku sebagai penata gaya juga nggak segan menolak jika keinginan pengantin nggak sesuai dengan karakter nya. Misal, pengantin ingin pakai lipstik pink  muda padahal kulitnya sawo matang cenderung coklat. Aku pasti akan menyarankan memakai lipstik coral, nude, atau coklat muda. Atau pengantin ingin memakai dress peplum padahal pinggulnya lebar, pasti akan aku tolak secara halus karena nggak sesuai, sebab itulah tugas seorang penata gaya.

Alhasil, kalau pengantin dan keluarganya berbeda pendapat di lapangan, kami pun bingung mau ikut siapa nih. Pengantin yang menikah atau ibunya yang membiayai pernikahan sekaligus menganggap lebih tahu anaknya? Jawabannya : tergantung situasi. Kalau memungkinkan, keinginan pengantin lebih diutamakan supaya wajahnya memancarkan aura positif, bukan keterpaksaan. Sayang kan acara seumur hidup sekali terlihat senyum terpaksa di foto.

 

 

No Comment
Leave a comment!
Your Name*
Your Email*
Your Website
Your Comment
Instagram
Follow me @raninelasari
This error message is only visible to WordPress admins

Error: API requests are being delayed for this account. New posts will not be retrieved.

There may be an issue with the Instagram Access Token that you are using. Your server might also be unable to connect to Instagram at this time.

Error: No posts found.

Make sure this account has posts available on instagram.com.

Error: admin-ajax.php test was not successful. Some features may not be available.

Please visit this page to troubleshoot.