MENU0

Cerita Tentang Papa

Papaku bukan orang yang sempurna. Mungkin kalau beliau ada di jaman sekarang, akan dianggap sebagai orang tua yang kolot dan banyak aturan. Nggak sepenuhya salah, tapi manfaat dari sikap dengan banyak aturannya itu membuatku merasa bersyukur sempat 22 tahun hidup bersamanya. Waktu beliau masih ada di dunia ini, aku nggak pernah rindu beliau (walau pergi dinas berhari-hari), aku jarang curhat atau sekedar bercanda tawa dengannya. Tapi apa yang beliau ajarkan, sangat melekat erat di pikiranku dan beliau itu lebih cerewet dibanding mamaku. Beliau nggak pernah modal ngomong aja, tapi lebih detail dengan memberikan contoh dan mengajarkan sesuatu kepada anak-anaknya.

Yang selalu aku ingat, dari kecil aku nggak bisa nonton Doraemon kalau belum nge-lap semua koleksi keramik milik papa mama, menata lemari belajarku, dan merapikan kamar. Papaku nggak melarang, tapi beliau memberi gambaran kalau aku bangun siang, semua kewajibanku dan kesenanganku akan gugur karena waktu nggak bisa kembali. Kamu telat ya telat. Dari situ, aku mikir sendiri berarti kalau mau nonton Doraemon, abis Subuh langsung capcus kerjakan kewajibanku di hari Minggu. Papaku juga cukup disiplin mengenai bangun pagi. Gayung yang biasa buat wudhu, bisa sampai kamar kalau kami bertiga nggak bangun, hahaha…

Dari kecil, papa juga membiasakan anak-anaknya menata rumah. Nggak capek-capeknya beliau bilang : “Nanti kalau punya rumah sendiri biar bisa nata”. Ngomong gitu sambil ngajarin cara meletakkan taplak yang simetris, menata guci keramik mulai dari besar ke kecil, dan lain-lain. Papa nggak peduli kita melakukan dengan nggak ikhlas, karena pengen santai di hari libur. Pelatihan menata rumah ini dilakukan dari aku SD sampai kuliah lho, hehehe...Tapi terbukti, ketika aku dewasa dan mau nggak mau harus tinggal sendiri (waktu beliau meninggal serta mas dan mbak sudah menikah) aku pun bisa menata rumah dengan baik tanpa bantuannya. Bahkan sekarang udah punya rumah sendiri, kami luwes menata bagaimana biar sedap dipandang. Nggak cuma anak perempuannya, Mas juga cukup rapi dan pandai menata rumah untuk ukuran laki-laki.

Saat anak-anaknya ABG, liburan SMP pasti langsung disuruh les nyetir. Tapi, nyetirnya nanti-nanti kalau udah 17 tahun dan syarat utamanya, bisa mencuci mobil sendiri. Yes, papaku nggak akan dengan mudah membiarkan anaknya pakai mobil dan main kesana kemari. Boleh pinjem mobil papa dan menyetir sendiri asal kami udah bisa mengganti ban mobil sendiri. Dulu belum banyak bengkel kan, jadi kami diajari cara mendongkrak, dan mencuci mobil sendiri sampai kinclong. Kalau Papa ngecek masih kotor, nggak akan itu mobil dikasih untuk dibawa pergi main. Papa nggak marah kalau kita nabrakin mobil. Kalau sampai terjadi penyok karena kurang hati-hati, beliau cuma bilang :”Tanggung jawab to bawa ke bengkel aja”. Intinya, dari situ dia mengajarkan kepada kami untuk bisa mengatasi masalah sendiri dan bertanggung jawab atas kesalahan yang sudah dilakukan.

Soal waktu, papa juga sangat disiplin. Dari kecil sampai dewasa, bahkan ketika beliau sudah terbaring di tempat tidur saja, beliau selalu kasih jadwal mandi dan makan untuk kami. Jadi, dulu waktu mama papa masih lengkap, kami wajib mandi maksimal jam 5 sore, makan malam selalu di meja makan dan rutin jam 7 malam. Apapun yang sedang kami kerjakan harus berhenti untuk makan bersama dan harus di meja makan. Di meja makan pun, udah ada table manner ala papa. Papaku punya aturan posisi nasi di sebelah mana, meletakkan sendok makan harus disamping piring, makan nggak boleh bunyi, dan lain sebagainya. Biasanya kaya gitu mamak mamak ya, tapi ajaib kan..ini Papaku lho. But, we love it! kami bertiga tumbuh menjadi pribadi yang sopan. Soal disiplin waktu, aku inget banget, Papa kalau mengantarku sekolah atau kerja, beliau selalu bilang :”Lebih baik kita yang menunggu, daripada orang lain yang nungguin kita”.

Beliau orang yang well prepared. Waktu mama sakit, dan beliau mungkin sebagai suami punya feeling umur mamaku nggak akan panjang karena penyakitnya, Papa nggak ngasih wejangan panjang lebar, beliau memilih meminta kami untuk baca artikel yang beliau kumpulkan dimana mengupas tuntas tentang penyakit kanker hati (penyakit yang diidap mamaku selama 1 tahun dan membawanya pergi selama-lamanya). Dari situ, aku menyimpulkan kalau papa memberi kesempatan kami untuk menghadapi kenyataan, dan beliau nggak mau dikira ingin mama cepet meninggal. Dan betul, akhirnya saat mama meninggal, kami pun sudah siap dan tegar. Tanpa mengeluarkan airmata, kami dengan sigap mengurus semua sendiri (bertiga), mulai dari keluar dari RS, pemakaman, dan pengajian yang diadakan di rumah. Kami cukup tegar berbagi tugas menyelesaiakan semua proses, mengingat hubungan mama dan ketiga anaknya sangat dekat. Saat mama sakit, kami sering tidur berempat. Cerita ini itu, tentang pacar, baju yang lagi tren dan banyak lagi. Jadi, buat kami bisa berpikir jernih saat mama meninggal itu amazing. 

Aku kehilangan Papa Mama, saat sudah dewasa. Tapi percayalah, ditinggal orang tua di umur berapapun, nggak enak. Jadi, bersyukurlah jika kedua orang tuamu masih lengkap. Jaga mereka baik-baik. Jangan kau bentak-bentak atas idealismu. Aku paling benci jika ada seseorang yang berani membentak orang tua nya. Aku nggak akan ngomong soal dosanya, pasti sebetulnya semua sudah tahu, tapi kenapa sih membentak orang yang sudah membesarkan kita dengan susah payah. Mendidik kita dari kecil, menanamkan kebaikan ke kita, dan mereka pasti juga berusaha membahagiakan kita. Ketika kita dewasa, kok berani membentak? So sad…. Menurutku perbuatan tersebut sangat nggak sopan dan menyebalkan. Kok jadi emosi ya?

Anyway, aku menulis ini karena aku rindu Papa Mama ku, rindu karena tanpa terasa sudah belasan tahun nggak bertemu. Rindu sekaligus bangga karena telah dibesarkan oleh orangtua seperti mereka. Yang aku tulis di sini, hanya sebagian kecil karena kalau ditulis semua nanti jadi buku. Karena ini bukan blog parenting, jadi aku tulis sesukaku, sesuai pengalamanku, dan sebagai pengobat rindu.

See you again Papa… Mama….

Papa : 1949 – 2006, Mama : 1950 – 2005

 

5 Comments
Nia
09 2018
Pakde..bude..panutan selain papa mama ku 😘😘
Dedew
14 2018
Masya Allah terharu bacanya, betapa hebat Papamu mbak..Al fatihah..
Rani Nelasari
14 2018
Maturnuwun, mbak .. terimakasih doa nya untuk papa
ririn
30 2018
I just lost my father so judul ini yg aku baca pertama kali. Agak bingung sama kalimat "22 tahun hidup bersamanya", "sudah belasan tahun nggak bertemu" Papa : 1949 – 2016, Mama : 1950 – 2015 Apa mungkin maksudnya 2006 dan 2005?
Rani Nelasari
06 2018
Terimakasih koreksinya. Nulisnya sambil mewek jadi typo :( Semangat mbak, mari kita buat papa kita bangga di sana.
Leave a comment!
Your Name*
Your Email*
Your Website
Your Comment
Instagram
Follow me @raninelasari