MENU0

JALAN – JALAN : Memanjakan Mata ke Makassar

Makassar bukanlah salah satu destinasi impianku. Nggak pernah terpikir sedikitpun aku bakal meluangkan waktu untuk mampir ke kota yang ada di Indonesia Timur ini. Kalau om atau saudara lain menyebut Ujung Pandang atau Makassar rasanya kok jauuuh banget. Namun semua berubah 180 derajat ketika adik iparku (adik suamiku satu-satunya) menikah dengan pria asli Makassar, si kakak yang sayang banget adiknya ini selalu ingin mengunjungi adik kesayangannya. Yang tadinya nggak terpikir ke sana, jadi udah dua kali ke sana. Bahkan mungkin akan beberapa kali, mengingat sejak beberapa hari lalu ponakan kecil sudah terlahir di dunia, Alhamdulillah.

Anyway, aku ingin berbagi cerita aja kemana aja sih aku di Makassar? Siapa tahu kalian berencana ke Makassar tapi bingung mau kemana. Yep, tempo hari sambil menunggu ponakan kecil lahir, selama beberapa hari kami berpetualang. Meski tujuannya sedikit random, tapi lumayanlah kita bisa mengunjungi tempat yang jarang didatangi. Kenapa jarang? Karena pas disana kok sepi? Ooohh weekday ding, hihihi..

Tunik hitam di Pantai Losari yang terik.

Lokasi pertama yang aku kunjungi adalah lokasi wajib bagi seluruh pelancong yang berkunjung ke Makassar yaitu Pantai Losari. Pertama kali ke pantai ini rasanya indah banget dengan hamparan pasir nan luas, dan pantai ini letaknya di tengah kota. Gampang banget menemukannya. Di sekitarnya pun banyak hotel dan makanan yang enak-enak. Sayangnya, sekarang karena ada reklamasi, area pantai semakin sempit. Hari itu panas sekali, dan aku salah kostum dengan memakai tunik hitam. Cerita tentang Makassar panas banget ternyata bukan bualan, karena terik matahari memang berasa ada di atas kepala kita. Untungnya tunik yang aku pakai berbahan rayon. Note! Rayon nggak pernah salah untuk dibawa travelling. Meski bahannya mudah kusut, tapi kalau udah dipakai, bisa halus sendiri. Ajaib kan?

Rammang Rammang Pegunungan Karst

Lokasi kedua adalah lokasi dimana membuatku memutuskan menulis destinasi kepergianku ke Makassar ini. Sebab, ketika aku posting di Instagram, banyak yang ingin tahu tempat apakah ini, jadi nggak ada salahnya berbagi informasi kan.

Destinasi wisata alam ini adalah Rammang Rammang (artinya awang-awang). Letaknya 40km dari pusat kota Makassar, yaitu di Maros. Kami sekeluarga menempuh perjalanan dengan mobil sekitar 1 jam 30 menit. Karena nggak hafal jalan Makassar, kami sempat salah jalan, tapi akhirnya ketemu juga dan melihat keindahannya sungguh nggak menyesal sampai Rammang Rammang.

Tempat ini bagaikan taman raksasa di film Jurrasic Park, dengan pemandangan bongkahan batu-baru besar di kanan kiri. Bebatuannya terbentuk secara alami lho, bukan ditaruh seseorang untuk membuat taman ini jadi objek wisata. Rammang-Rammang ini adalah pegunungan karst terbesar kedua di Asia.

 

Perahu sebagai transportasi utama berkeliling

 

Hamparan Batu di sekeliling Rammang Rammang

Untuk menyusuri dan bereksplorasi, kita diharuskan menaiki perahu terbuka warna-warni dengan mesin kecil dengan tarif Rp 200.000 untuk maksimal 4 orang. Kebayang kan ya bagaimana panasnya di Indonesia Timur dan perahu yang kami naiki nggak ada atapnya. Jadi, disarankan kalau ke sini bawalah topi atau payung. Sebetulnya ada yang menyewakan topi, namun yang ada di pikiranku saat itu adalah topi-topi tersebut disewakan untuk foto. Rupanya memang untuk melindungi kepala dan wajah kita dari sengatan matahari. Tapi karena aku sudah terlanjur ternganga dengan keindahannya, aku nggak merasakan kalau kulitku sudah terbakar matahari.

 

Selain melihat keindahan karst (batu kapur), kami juga diajak berkeliling ke desa yang ada di ujung pulau yaitu Desa Salenrang. Untuk memasuki Kampung Baruang desa Salenrang, ada tiket masuknya. Kita wajib membayar Rp 5.000,- per orang kalau mau turun dari perahu melihat desa tersebut. Murah banget dimana kita bisa melihat ikan di jernihnya air yang terhampar luas. Dan desa ini dikelilingi batu-batuan tinggi bagaikan tempat persembunyian Luke Skywalker di film “Star Wars : The Last Jedi”.

Ikan-ikan terlihat jelas, karena airnya jernih

 

Meski sederhana, rumah untuk homestay cukup bersih dan layak

Di desa ini juga ada homestay milik warga yang bisa dijadikan lokasi menginap untuk menikmati indahnya malam hari. Namun karena kami nggak persiapan, dan pastinya aku sendiri nggak punya nyali buat tinggal di daerah terpencil seperti ini, kami putuskan kembali ke dermaga sambil menikmati pemandangan kembali.

 

Outfit yang matching dengan sekitarnya, hehehe

 

Pak suami gosong karena pakai kaos lengan pendek dan hitam pula

Di destinasi kedua ini, aku nggak salah pilih baju. Tunik bahan katun berwarna olive green berasa nge-blend dengan sekitarnya yang didominasi dengan unsur tanaman hijau, dan hitam untuk bebatuannya. Pas banget warna hitam diwakili oleh celana yang aku pakai. Mix and match edisi ini berhasil ya! Kalau kamu berkesempatan ke sini, aku sarankan untuk menggunakan pakaian yang senyaman mungkin, kalau keseharianmu menggunakan gamis/dress pastikan memakai celana panjang di dalamnya. Karena dari dermaga kamu harus sedikit melompat ke perahu, jangan sampai pakaian kamu malah bikin ribet sendiri. Selain itu, pastikan kamu pakai sunblock, dan bawa topi lebar. Kalau nggak bawa, sewanya murah kok hanya  Rp 10.000,-

Perjalanan dari dermaga sampai desa terujung dan balik lagi memakan waktu kurang lebih 1,5 jam. Kalau mau jajan dulu, pastinya lebih dari itu durasinya. Kok jajan? Iyah dong.. di Kampung Baruang ada warung yang menjual gorengan, kelapa muda yang menyegarkan dan masih banyak lagi. Jangan takut kalau kebelet pipis, karena meski terpencil tetap ada toilet yang bersih.

Suasana alam ketika memasuki area dermaga 1

Oh ya, di Rammang-Rammang ada dua dermaga yang terlihat di petunjuk arah. Kalau yang aku ceritakan panjang lebar di atas adalah dermaga 2. Karena di dermaga 1 kami coba masuk, ternyata desa dengan hamparan sawah luas dikelilingi batu dan sepi banget seperti nggak ada kehidupan. Makanya kami putar balik, kembali ke jalan utama dan menuju ke dermaga dua, yang teryata sungguh indah dan tentunya sepadan dengan perjalanan ke sini dari kota Makassar.

Air terjun yang indah di Bantimurung

Lokasi berikutnya, sebetulnya sudah aku datangi saat kunjunganku pertamakalinya di Makassar tahun lalu. Yaitu Taman Bantimurung Bulusaraung nama lengkapnya. Wisata alam yang ada di Maros juga ini juga terdapat karst, stalaktit, stalakmit  namun yang ditonjolkan menjadi daya tarik adalah kupu-kupu. Tempat ini adalah penangkaran kupu-kupu dari berbagai spesies.  Sayangnya, saat aku ke sana kupu-kupunya masih menjadi kepompong. Yang bikin berdecak kagum adalah air terjun alami yang turun dari atas gua. Kalau biasanya kamu harus berjalan masuk ke pelosok buat cari air terjun, air terjun di Bantimurung ini jelas banget dan mudah dicapai.

Okay, sekian hasil jalan-jalanku ke Makassar dan sekitarnya. Sebetulnya masih banyak destinasi yang dikunjungi seperti Pulau Samalona dan lain sebagainya. Intinya, kalau ke Makassar yang menarik adalah wisata alamnya, karena banyak sejarah di sana. Meski harus ke luar kota dulu ya, karena mostly lokasinya di Maros. Tapi, percaya deh sebanding dengan perjalanan yang ditempuh.

 

 

 

No Comment
Leave a comment!
Your Name*
Your Email*
Your Website
Your Comment
Instagram
Follow me @raninelasari
This error message is only visible to WordPress admins

Error: API requests are being delayed for this account. New posts will not be retrieved.

There may be an issue with the Instagram Access Token that you are using. Your server might also be unable to connect to Instagram at this time.

Error: No posts found.

Make sure this account has posts available on instagram.com.

Error: admin-ajax.php test was not successful. Some features may not be available.

Please visit this page to troubleshoot.